Dilan. Jika mendengar nama itu, membuat saya teringat saat masa SMA. Beberapa teman membicarakan Dilan dan dimana akhirnya, saya mengetahui sendiri Dilan itu siapa, dari sebuah buku yang teman saya bawa. Buku dengan judul “Dilan” dengan cover anak SMA, yang ditemani sepeda motor. Namun, pada saat itu, saya tidak penasaran dengan bahasan seputar Dilan.

Waktu berjalan, Dilan tak lagi menjadi pembicaraan di sekolah. Sampai, Dilan menjadi perbincangan kembali, bahkan lebih dibahas daripada awal saya mengetahuinya. Teman-teman lebih banyak yang memiliki buku tersebut, sampai saling dipinjamkan. Dan disanalah, saya penasaran dengannya. Saya coba meminjam buku tersebut, untuk dibaca selintas di sekolah.

Singkat cerita, saya membeli buku tersebut, karena ceritanya yang bagi saya berbeda dan menarik. Seberesnya saya membaca semua isi, kesimpulannya adalah novel “Dilan” memang lebih pas dibaca oleh perempuan dan yang tidak jauh dari umur Dilan, dan Milea yang diceritakan sebagai pasangan Dilan juga menjadi sudut pandang novel ini. Pidi Baiq sebagai penulisnya, dapat membuat novel ini terasa realistis walau tidak semua orang mengalaminya, padahal novel ini adalah fiksi. Dengan sisi Milea yang pada awalnya terganggu oleh Dilan, namun akhirnya melihat Dilan dari sudut pandang yang berbeda.

Saya sendiri dapat baiknya dari novel tersebut, yaitu “Sesuatu yang sederhana, bukan berarti tanpa makna”. Lanjutan novel kedua “Dilan 1991” juga ketiga “Milea” saya bereskan pula sebagai lanjutan dan akhir ceritanya.

Film “Dilan 1990”

Cukup lama tak terdengar lagi, ketiga bukunya menjadi sebuah film. Nama Dilan menjadi naik kembali, khususnya untuk siapa yang memerankan Dilan. Ekspetasi pembaca bukunya tentang sosok Dilan yang terbayang karna bukunya, menjadi poin. Dan untuk yang belum tahu, saya kira juga mengalami hal yang sama dengan saya, pada awal pembicaraan seputar bukunya. Entah jadi membaca bukunya, atau mencari informasinya di internet.

Pada awal kemunculan filmnya, saya memiliki kesempatan untuk menonton duluan film pertamanya, sebelum tayang di semua bioskop. Berikut vlog ringkasnya.

Suasana Gala Premiere Dilan 1990

Film yang baik dalam menerjemahkan pesan didalam novelnya. Walau cukup canggung, karena peran utama Dilan adalah Iqbal Ramadan. Yang mana orang tahu, ia adalah penyanyi cilik yang unyu-unyu pada saat kecil. Namun, aktingnya tak dapat dikatakan buruk. Suasana acara ini ramai, karena antusias orang-orang.

Secara teknis vlog diatas menggunakan DSLR Canon, fokus manual. Dengan tambahan mic clip, yang di edit dengan Adobe Premiere. Pembuatan thumbnail di Canva, dengan isi “Dilan?” disandingkan dengan foto Iqbal sebagai tokoh utama. Yang diharap menjadi sebuah infromasi untuk yang ingin mengetahui siapa sosok Dilan dalam film.

Film “Dilan 1991”

Lalu dengan kesempatan yang sama, saya menonton film keduanya. Dan lebih fokus kepada review yang lebih mendalam tentang filmnya.

Vlog sekaligus Review Film “Dilan 1991”

Direkam menggunakan GoPro, untuk bagian yang portait dibantu dengan smartphone Xiaomi, karena juga untuk keperluan Insta Story. Pada saat review, mic dari iPhone dibutuhkan menggantikan mic GoPro, karena kualitas perekaman suaranya baik, juga dikarenakan suasana tempat yang cukup berisik sehingga mic harus dekat dengan mulut. Di edit dengan software editing yang sama, Adobe Premiere, juga Canva untuk covernya, yang memperlihatkan Dilan yang sedang berkumpul dengan gengnya, dan seperti merencanakan sesuatu. Diharap orang penasaran untuk tahu apa yang dilakukan Dilan.

Film “Milea”

Waktu dan kondisi tidak memungkinkan saya untuk menonton Gala Premiere nya, jadi saya menontonnya dipertengahan waktu tayangnya di bioskop. Kali ini tak ada video, karena kondisi yang juga tidak memungkinkan untuk saya merekam.

Secara keseluruhan, perubahan sudut pandang dari Milea ke Dilan, membuat film atau juga novelnya terasa nanggung, karena cerita yang seperti dipaksakan selesai. Namun, jika tidak ada sudut pandang yang berubah, juga terasa kurang lengkap.